rumah cinta mairi nandarson

Journal

Blog EntryInikah Saatnya Kita BerpuasaSep 21, '07 2:12 AM
for everyone
/untuk gempa padang
:mairi nandarson


gempa..
gempa..

kata-kata itu
terulang
terbuang
tersulang

rasa cemas
takut
pun tak hilang
datang
dalam pekikan
kepanikan
kebingungan

tanah-tanah
rengkah

rumah-rumah
musnah

pohon-pohon
menjamah tanah

air laut
meluap tumpah

gempa..
gempa..

dimana ranah tersisa
dimana anak-anak kita
dimana hati kita

lari..
lari..

tsunami diukir di hati
lupa dengan doa
tak tahu Tuhan dimana

gempa..
gempa..

kemana kita lari
hari sudah senja
langit berubah warna
malam akan datang
sahur datang menyapa

masih kah ada doa
tentang puasa
tentang kita yang tak punya
yang tahu kapan makan siang

tak ada uang
tak tahu waktu berbuka

batam, september 2007


Blog EntryKampuang Kanai GampoSep 13, '07 3:08 AM
for everyone
duuuh Padang digoyang gempa lagi.. sedih, sedih, sedih,, nggak kebayang gimana paniknya kampuang digoyang gampo.. baa amak? baa uda? baa sanak-sanak? anak-anak jo kamanakan? doa se nan bisa awak kecekan.. muadah-mudahan Tuhan memberi keselamatan amin..



Blog Entrymulai lagiSep 5, '07 3:12 AM
for everyone
hari ini akau mencoba untuk memulai mengerjakan beberap karya kreatif yang dulu pernah mengisi hari-hariku, membuat kartun, menulis puisi, menulis cerpen, bahkan menulis artikel.. pokoknya menulis.. proses kreatif di dunia penulisan itu pernah menjadi bagian dari hidupku dan memberi penghidupan.
kini setelah tulisan-tulisan kreatif mulai jarang aku jamah, muncul rasa iri, atau cemburu setiap kali melihat karya orang lain.. muncul sifat sombong, karya yang orang ciptakan rasanya tidak terlalu bagus,  rasanya aku bisa membuat lebih baik.. tapi itu sifat manusiawi manusia
toh ketika aku mulai menulis dan mencoba membuktikan bahwa karyaku masih lebih baik, 
aku belum begitu sanggup. bahkan sebuah cerpen tidak lagi lahir seperti dulu, yang tak butuh
waktu lama untuk sebuah karya. 
mimpi-mimpi untuk berkarya itu kini terus muncul, dan bahkan memimpikan yang jauh lebih
ideal, menulis novel lah, menulis skenario film lah, menulis apa saja... tapi selalu tak ada 
garis start yang dijajak sehingga tak ada garis finish yang dicapai
aku ingin mulai lagi.. aku ingin keindahan masa lalu, ketika kata-kata begitu lekat di tulisanku
dan aku tidak kesulitan untuk merangkainya menjadi sesuatu yang indah.. aku rindu dengan
puisi-puisiku yang digunting orang dari koran dan disimpan di diary, di buku tulis atau di tempel di mading-mading sekolah. aku rindu tulisan-tulisanku dibicarakan orang, aku rindu karya-karya ku diperdebatkan orang, tapi apakah itu hanya menjadi kerinduan?
aku aku memulai lagi, menulis lagi, memilih menggunakan waktu menjadi lebih berguna dibanding untuk sekedar senang-senang seperti chating, browsing internet yang
jelas, atau melihat-lihat video yang nggak berfaedah.
membaca. aku sudah jarang melakukannya. tak ada satu novel pun yang aku baca dalam 
satu tahun ini, tak ada karya fenomenal yang singgah dibenakku untuk kujadikan inspirasi
melahirkan karya-karya terbaru.. tak ada bacaan tak ada pencerahan
aku mesti mulai lagi, aku sudah menulis puisi meski itu hanya untuk lomba PLN .. lucu juga
PLN kok dibikin puisi, yang kubayangkan puisi-puisi yang lahir adalah puisi prosa yang sarat 
dengan sandiwara, karena berwujud puji-puji pada PLN hehehehehe
entahlah tapi dalam beberapa hari ini aku mulai kembali membuat kartun setiap pagi, paling tidak aku ingin membuatnya, meski setiap pagi itu tidak selalu ada ide yang muncul untuk di
tuangkan dalam bentuk kartun.. tapi dalam dua hari ini aku sudah membuat enam kartun  baru dan aku mengirimkannya untuk BOLA dan NOVA, muadh-mudahan kartunku bisa keluar dari di dua tabloid terbesar di tanah air itu...

 
  

Blog Entrylagu minang bikin hidup lebih hidup Aug 23, '07 10:40 PM
for everyone
asyik juga jalan-jalan di dunianya multiply, aku menemukan banyak hal, satu di antaranya adalah melepas kerinduan pada kampung halaman lewat lagu-lagu yang dimiliki kawan-kawan di multiply. senang deh ada saluang yang bikin bulu kuduk berdiri, udah lama nggak dengar masalahnya hehehehe.. di rantau memang kudu mencari sesuatu yang berbau kampung, sebaliknya di kampung selalu mencari-cari yang berbau rantau...



Blog EntryAyah SendirianJul 4, '07 12:19 AM
for everyone
Mulai hari ini, Rabu 4 Juli Ayah sendirian di rumah, tadi siang Bunda pergi mengikuti pelatihan ke Jakarta. Dua hari lalu Faiz bersama Lek Pi-nya sudah terbang ke Padang. Faiz malah senang di Padang bersama mbahnya. Lagian di Padang bisa kemana-mana dan banyak yang bisa ngajak jalan-jalan. Beda kalo di Batam, nggak bisa diajak jauh ama Lek Pi-nya, kalau pun mau keluar harus nunggu Ayah, tapi Ayah pulang tengah malam. Jadi hanya hari Sabtu aja Faiz bisa jalan-jalan sama Ayah dan Bunda.
Kalau sama Bunda seh, Faiz bisa ketemu siang, sepulang sekolah Faiz udah bisa main-main sama Bunda meski Bunda juga masih capek karena habis ngajar dari pagi.
Sebulan. Ya lama juga seh. Tapi mo gimana lagi, ini mesti dihadapi untuk karir bunda (meski pulang dari Sawangan tempat pelatihan Bunda nggak tahu apa yang terjadi dengan sekolah Widya). Ayah pasti siap. soalnya hidup sendiri kan dah pernah dijalani. Jadi nggak terlalu kagok seh. Paling rindu banget sama Faiz dan Bunda. Tapi kan sudah ada telepon yang bisa berkomunikasi untuk mengobati kerinduan. Mudah-mudahan semua berjalan baik-baik saja.



Blog Entryanakku sudah mulai besarMay 21, '07 9:08 PM
for everyone
Tak terasa Faiz sudah tumbuh besar. Rasanya baru beberapa hari lalu dilahirkan. Setiap kali pergi kerja, rasanya tidak tega ninggalin Faiz, apalagi hanya satu jam bertemu, karena pulang sudah kemalaman dan Faiz sudah tidur. Pas bangun udah siap-siap mo berangkat lagi. Untung saja ada hari libur. Sehingga bisa bermain-main dengan Faiz. Berenang dan jalan-jalan yang bisa bikin Faiz senang.

Blog Entrybuat anakku FR AissatiApr 24, '06 4:26 AM
for everyone
hidup ini indah nak
dan kamu mesti tahu segalanya terasa mudah
ketika kita menjadikannya bagian dari hidup
dan tidak menjadikannya perburuan nafsu


Blog EntryMenara kembar petronas MalaysiaSep 10, '05 3:52 AM
for everyone
Agaknya Tuhan telah memberikan cintanya kepadaku dengan memberi kesempatan untuk menjelajah lebih banyak tempat. Aku menemukan banyak karakter orang dan banyak kebiasaan. Di Malaysia, orang lebih tertib dalam urusan publik yang membutuhkan birokrasi (antre maksudnya). Yang jelas, berada di tanah orang membuat kita berpikir bahwa Tuhan punya tanah yang lebih luas dan kita mesti mensyukurinya.



Blog EntryDi Pantai Sharmila, Songkhla, Thailand Sep 10, '05 3:45 AM
for everyone
Aku berkesempatan berada di Thailand, memanfaatkan kunjungan ke Malaysia. Jalan-jalan di negeri gajah putih ini ternyata tidak terlalu mahal dan banyak alternatif tempat wisata yang terkelola dengan baik. Foto ini ketika aku sedang berada di pintu gerbang pantai Sharmila, Songkhla, Thailand.


Blog EntryIstana Negeri SembilanSep 10, '05 3:38 AM
for everyone
Aku di depan istana kerajaan Negeri Sembilan Malaysia. Nggak terlalu istimewa sih di sana. Mungkin karena kehidupan yang kujalani sudah cukup moderat. Selain itu, akar budaya Minang di Negeri Bagian Malaysia ini membuat kehidupannya menjadi tidak asing.


Blog EntryCerpen Pintu Surau TerkunciSep 8, '05 12:29 AM
for everyone
Pintu Surau Terkunci
Cerpen Mairi Nandarson
(dimuat di majalah Annida)

Aku harus bergegas. Azan magrib sudah sepuluh menit berlalu dikumandangkan. Sayang, aku mendengar panggilan itu di atas bus yang tidak lama kemudian sampai di kota kelahiranku. Tempat aku harus turun. Aku tak bisa menyengerakanya, kecuali mempercepat langkah.
Surau terdekat masih sekitar tiga ratus meter lagi. Separoh dari jarak rumah orang tua yang akan kutuju. Kendaraan pembantu yang biasa kumanfaatkan hanya ada siang hari. Senja menjelang malam kendaraan itu sudah tidak ada, aku terpaksa berjalan kaki dan mempercepat ayunan langkah. Berharap sholat magrib masih bisa kulakukan.
Sudah hampir dekat dengan surau. Hanya tinggal dua rumah lagi ketika langkahku harus terhenti. Persis di sebuah lapau, sebuah sapaan menegur langkahku. Sapaan teman sepermainan.
“Hoi, Jo! Baru pulang kau rupanya? Singgahlah dulu!” sebuah suara dari keramaian lapau. Langkah harus kuhentikan meski keraguan menyergapku. Aku belum sholat magrib.
“Nanti aku kesini, aku ke surau sebentar,” kataku setelah aku mendekati lapau itu dan mendapatkan banyak teman bermain masa kecilku sedang duduk mengitari meja, bermain domino. Aku harus mendekatinya untuk sebuah kebiasaan agar tidak dicap sebagai sebuah keangkuhan. Menyambut sapa mesti hanya sebentar adalah adat berkawan.
Aku beranjak dan bergegas meninggalkan lapau menuju surau untuk melaksanakan sholat magrib dan berharap waktu masih tersisa.
Tapi tidak. Langkahku harus terhenti lagi ketika sampai di tempat berwudhu, tidak ada air yang bisa kugunakan. Tempat berwudhu yang masih nampak baru dibangun itu terkunci pintunya.
Seorang yang berjalan di dalam keremangan cahaya senja menyapaku.
“Surau terkunci, garin sedang pulang kampung,” suara itu setengah berteriak, dan cukup bagiku untuk tidak berlama-lama di halaman samping surau itu. Aku pun menyegerakan pulang.
Surau itu terletak di tengah-tengah kampung. Orang-orang menyebutnya Surau Dingin. Mungkin karena terletak tidak jauh dari sungai, surau itu sering dimasuki hawa dingin maka orang menamainya Surau Dingin.
Surau bagi kami adalah segalanya. Di sanalah salah satu tempat berinteraksi bagi masyarakat di kampung itu, terutama laki-laki yang masih membujang. Surau juga di fungsikan masyarakat sebagai tempat berkumpul, bermusyawarah, dan menghabiskan malam dengan bermain silat.
Di surau itu anak-anak belajar mengaji pada malam hari usai sholat isya hingga pukul sepuluh malam. Sementara anak-anak perempuan pulang ke rumah. Anak laki-laki tetap di surau. Bermain silat atau sekedar bersenda-gurau dengan kawan-kawan sebayanya. Sesekali mendengar ceramah dan belajar “bicara” adat.
Di surau itu, selalu ada seorang imam yang kami sebut tuanku. Selain menjadi imam dalam melaksanakan sholat berjamaah, ia juga menjadi guru dalam belajar silat.
Usia sepuluh tahun kami sudah tidur di surau. Tidak ada yang menyuruh, tapi juga tidak ada yang melarang. Di kampung kami, laki-laki yang sudah mulai remaja tidur di surau dan malu tidur di rumah.
Penyebabnya Tuanku yang pernah mengajar kami membaca Al-Quran dan bermain silat sudah meninggal dunia. Sampai enam bulan, tidak ada yang menggantikan kedudukannya. Ada labai dan siak yang menjadi “ kaki” bagi pelaksanaan kegiatan keagamaan di kampung kami. Tapi mereka ternyata tidak mampu berbuat sebagaimana Tuanku.
Selama enam bulan tanpa Tuanku, pada awalnya kami juga mencoba untuk berinisiatif melakukan kegiatan mandiri dengan mengulang-ulang pengajian dan pelajaran silat yang pernah di berikan Tuanku. Tapi karena tidak ada yang kami segani keiatan pengulangan tidak menjadi serius dan menjadi kegiatan main-main. Akhirnya kami pun bosan. Tidur di surau semakin tidak enak dan penggunaan waktu semakin tidak karuan.
Orang tua kami bahkan kemudian ikut melarang anak-anak tidur di surau karena lebih banyak waktu untuk bermain daripada belajar. Orang tua kami pun khawatir dengan keadaan itu, khawatir pendidikan kami terbengkalai karena aktivitas surau yang semakin tidak jelas.
“Kamu tidur di rumah sajalah, kamar depan kosong. Kamu bisa tidur di sana,” kata Emakku suatu kali ketika mendapatkan aku hanya bermain-main dengan kawan-kawan di halaman surau hanya selang sebulan setelah kakak perempuanku di boyong suaminya ke Jakarta, sehingga kamarnya kosong. Sedangkan aku, tidak pernah ada di rumah, sebagaimana rumah lainnya di kampung kami yang tidak menyediakan kamar bagi anak laki-lakinya. Surau bagi kami telah cukup menjadi tempat tidur, belajar, dan bermasyarakat.
Kalau suruhan Emak itu tidak diiringi dengan kemarahan, tentu aku tidak mau mengikuti karena masih malu tidur di rumah. Malu sama kawan-kawan.
“Kalau kamu tidak mau tidur di rumah, tidurlah di surau itu seterusnya. Tidak usah pulang, bawa pakaian dan semua perlengkapan sekolahmu ke surau,” ancam Emak yang tidak bisa ku jawab. “Kalau kamu tetap di surau tanpa karuan begitu, sekolahmu akan berantakan,” tambah Emak.
Ternyata tidak hanya aku yang mendapat perlakuan seperti itu. Teman-temanku juga mendapat perlakuan yang sama dari orang tua mereka. Hanya beberapa orang saja yang tidak. Akhirnya aku ikuti apa yang di inginkan Emak. Tidur di rumah.
Setiap kali pulang ke rumah orang tua di tanah kelahiranku itu, Emak selalu mewanti-wanti aku senantiasa pergi kelapau. Bergaul dan berkumpul dengan kawan-kawan sepermainanku dulu itu. Tapi permintaannya sering tidak aku ikuti, karena lapau bagiku hanyalah tempat membuang-buang waktu.
“Untuk apa ikut ke lapau, Mak, paling di sana bermain domino atau memainkan kartu-kartu, lalu lupa dengan kegiatan lainnya, dan lupa sholat,” kataku beralasan.
Aku mulai tidak betah dengan suasana lapau sejak aku kuliah. Aku tak pernah lagi ikut kegiatan “pertaruhan” diatas meja itu.
Aku sedang zikir ketika Emak memberi kabar, Pak Daud tetanggaku meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Aku segera bangkit dari duduk usai menyelesaikan sholat magrib dan bergegas ke rumah Pak Daud yang hanya berjarak tiga rumah dari rumahku.
Belum banyak orang yang datang ke rumah Pak Daud. Hanya keluarga terdekat yang masih kelihatan panik, hilir mudik memberitahu tetangga.
“ Beduknya sudah dipukul?” tanyaku, pada Yani anak Pak Daud yang paling tua.
“ Belum, tapi beduk tidak lagi di bunyikan,” katanya.
Agak kaget aku mendengarnya, “ Sekarang cukup memberitahukan dengan mulut saja,” tambahnya.
Aku merasah tidak yakin apa yang dikatakannya. Segera aku beranjak dari hadapannya dan berangkat menuju surau. Aku tetap ingin membunyikan beduk. Memberi tahukan masyarakat bahwa ada orang yang meninggal dunia di kampung itu.
Sesampai di surau, aku tidak menemukan rotan yang dulu biasa di letakkan di pinggir beduk agar mudah membunyikannya saat diperlukan. Aku tidak mendapatkannya di sekitar beduk mau pun di teras surau yang tidak terlalu besar itu. Mungkin di dalam surau, tapi surau masih terkunci.
Ternyata banyak yang terkejut ketika aku membunyikan beduk. Hingga beberapa orang kemudian menemuiku dan menanyakan kenapa aku memukul beduk yang tidak pernah di bunyikan.
“Kenapa kamu memukul beduk itu, Jo? Bukankah beduk itu tidak lagi di gunakan untuk kegiatan apapun?” kata sabar yang tidak aku mengerti maksudnya.
“Aku hanya memberi kabar, Pak Daud sudah meninggal dunia,” kataku dan berharap ia terkejut. Tapi tidak, ia biasa saja.
“Oh!” katanya. Hanya itu, lalu pergi. Pertanyaan yang sama, dilontarkan orang kampung yang mendengar pukulan beduk itu, dan aku menjawab dengan kalimat yang sama, dan respon yang kudapatkan juga tidak jauh berbeda. Tidak acuh.
Hingga tengah malam tak banyak yang hadir di rumah Pak Daud. Hanya keluarga dan kerabat terdekat. Itu pun tidak berlama-lama. Setelah melihat jasad Pak Daud, sesaat kemudian pergi.
Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang tengah terjadi. Pak Daud adalah seorang guru sekolah dasar yang cukup baik. Suka menasihati anak-anak sekolah setiap kali bertemu dengannya dalam perjalanan pulang ke rumah. Pak Daud juga pandai mendidik anak-anak. Semua anaknya mendapatkan pendidikan sarjana. Bahkan anaknya yang sebaya denganku kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di pulau Jawa.
Satu hal yang tidak di miliki Pak Daud adalah waktu luang. Selalu ada yang di kerjakannya sejak pulang dari mengajar hingga larut malam menjelang tidur. Dan pekerjaan itu dilakukan di lingkungan rumahnya.
Pagi, ketika matahari belum begitu panas aku sudah berada di rumah Pak Daud. Barang kali aku bisa membantu sejumlah pekerjaan yang di perlukan menjelang penguburan jasad Pak Daud bersama masyarakat lain. Tapi hingga pukul setengah sebelas, aku tidak melihat ada tanda-tanda kegiatan untuk segera menyembahyangkan jasad Pak Daud. Orang-orang kampung sepertinya tidak merasa ada kematian di rumah itu. Mereka lewat dan hanya memalingkan wajah sesaat ke rumah itu, lalu melanjutkan langkah.
Sementara isak tangis masih terus terdengar dari dalam rumah. Anak-anak Pak Daud yang berada di rantau sudah sampai di rumah itu, termasuk Amri, anaknya yang sebaya denganku.
Hingga selesai proses pemakaman di pekuburan keluarga, tidak banya orang yang menyertai. Sesuatu yang membuat aku tidak mengerti atas sikap masyarakat yang tega membiarkan keluarga Pak Daud dalam kesulitan menghadapi peristiwa kematian itu.
“Bukankah masyarakat memegang prinsip setiap kabar baik di sampaikan, dan kabar buruk masyarakat harus di dating tanpa di undang,” pikirku.
Aku semakin merasa asing dengan kampungku itu. Hanya enam tahun aku tidak pulang, asanya sudah terjadi sesuatu yang sangat luar biasa.
“Apakah yang terjadi di kampung ini, Mak?” tanyaku.
“Tidak ada. Semuanya sama seperti ketika kamu kecil dulu, kecuali surau yang sudah lama terkunci,” kata Mak.
“Mak telah membohongi, Jo, buktinya kematian Pak Daud tidak di gubris masyarakat. Mayatnya yang seharusnya di sholatkan di surau tidak di laksanakandan hanya di lakukan di rumah. Menggali kuburan yang dulu gotong royongsekarang tidak ada lagi. Ada saja alas an orang untuk tidak mau ikut membantu penggalian kuburan. Apa itu bukan perubahan, Mak?”
“Tidak,” kata Mak singkat. Jawaban itu membuat aku terkejut. Agak kerut keningku menatap Mak yang duduk sambil menjahit sebuah kain yang robek pinggirnya.
“Kalau bukan Pak Daud, kamu akan menemukan apa yang kamu katakan beubah, dan menyesal telah mengatakannya,” kata Emak yang membuat aku binging.
“Maksud,Mak?”
“Ya, misalkan yang meninggal itu bukan Pak Daud, kamu akan melihat orang berbondong-bondong pergi melayat, menggali kubur, menyembahyangkan dan mengantar sampai ke kuburan. Tapi yang meninggal itu Pak Daud, ya seperti itulah,” kata Emak. Sepertinya sinis.
“Memangnya kenapa dengan Pak Daud?”
“Apa Pak Daud tidak pernah ke lapau?” aku menebak arah kalimat Emak seperti yang dikatakannya kepadaku. Mak tidak menjawab langsung, ia hanya menatapku.
“Alangkah mahal harga sebuah lapau,” kataku bergumam. Lalu berlalu meninggalkan Emak dan melaksanakan sholat isya di rumah, karena surau masih terkunci.

Palembang, April 2003

keterangan:
lapau: Kedai
waang: kamu
lebai: gelar pengurus keagamaan secara tradisional dalam suku / marga.
Siak: orang-orang yang tergolongan dalam kelompok ulama tradisional.


Blog EntryCerpen Rantau Sep 8, '05 12:25 AM
for everyone
Rantau
Cerpen Mairi Nandarson
(dimuat di majalah Annida)

Kesenangan Amri bertemu dengan sahabat lamanya, Sirul tak bertahan lama. Gusar. Itulah yang dirasakan Amri belakangan sejak kepulangan kawan sepermainannya itu.
Di lapau1 ia merasa tidak betah untuk berlama-lama bersama Sirul, dan ia lebih suka beranjak dari palanta2 lapau ketika Sirul sudah mulai bercerita tentang rantaunya.
“Betul kata adat kita, karatau madang di hulu, babuah babungo balun, ka rantau bujang dahulu, di rumah paguno balun3,” Sirul memulai ceritanya.
Setamat Sekolah Teknologi Menengah di Pariaman, Sirul ikut sepupunya ke Jakarta. Sepupunya sudah lima belas tahun di ibukota negara itu. Bekerja sebagai sopir, dan kini sudah memiliki mobil sendiri.
Di Jakarta, Sirul disuruh berdagang di kaki lima, setelah ijazah Teknik Mesin yang dipegangnya tidak ada yang mau menerima. Ia berdagang saputangan. Tiga sepuluhribu.
“Barulah aku merasakan, ternyata memang sulit mencari uang,” katanya menekankan kata sulit dengan menghadapkan muka ke arah Amri. “Sehingga aku berpikir, alangkah tidak manusiawinya kalau sudah besar, kita masih tinggal di rumah dan membebani orangtua,” tambahnya.
“Kenapa begitu Rul?” Tanya One pemilik lapau menyela pembicaraan itu.
“Begitulah Ne, badan sebesar ini kan sudah saatnya memberi kepada orangtua, tidak lagi menampungkan tangan. Malulah awak,” katanya sambil tersenyum dan sekali lagi melirik ke arah Amri.
Itulah yang membuat Amri tidak suka. Setiap kali ia bercerita, selalu melirik ke arah Amri. Bagi Amri tentu saja dirinya merasa disindir. Merasa diperolok-olok sahabat kecilnya itu, karena memang sejak tamat sekolah yang sama dengan Sirul, ia tidak pernah menginjak kakinya di tanah rantau sebagaimana dilakukan Sirul.
Amri sebenarnya tidak terlalu iri dengan apa yang telah dilakukan Sirul dengan merantau. Belum ada sesuatu yang istimewa diraih Sirul kecuali cerita yang tak berkesudahan tentang perantauannya.
“Lalu apa yang telah kamu dapatkan di rantau?” Tanya Amri suatu kali. Dan pertanyaan itu ternyata tidak disukai Sirul.
“Banyaklah yang kau dapatkan, tidak seperti kamu yang hanya berani di kampung saja,” jawaban itu beraroma emosi dan itulah yang tidak disukai Amri dan ia merasa sudah ditonjok oleh kata-kata Sirul.
“Kamu mungkin hanya tahu gedung DPR itu dari televisi, sedangkan aku sudah berjalan-jalan di halamannya yang luas itu. Kadang-kadang tempat itu dipenuhi mahasiswa yang melakukan aksi demo,” cerita Sirul dengan dagu sedikit diangkat.
Siru tidak selesai begitu saja kalau ia sudah merasatidak suka dengan pertanyaan seseorang terhadapnya. Ia terus menceritakan apa saja yang ia ketahui tentang Jakarta. Sepertinya ia tahu segalanya tentang kota metropolitan itu. Padahal Amri sudah tahu tentang apa yang diceritakan Sirul dari banyak informasi yang ia peroleh melalui media massa.
“Pokoknya jauh bedalah dengan kampung kita. Hal itulah yang membuat pikiran kita terbuka untuk berusaha,” katanya lagi.
Sejak itu Amri agak jarang menemui Sirul, meski Sirul kadang-kadang memanggil dan mengajak dirinya pergi ke lapau One untuk sekedar minum kopi dan bersenda-gurau.
Sejak beberapa hari, Amri memang tidak sering bersama Sirul. Tapi kegusaran mulai tumbuh dalam dirinya. Cerita Sirul seakan-akan menampar dirinya yang tak pernah merantau. Keinginan merantau sebenarnya sudah tumbuh lama dalam dirinya, tetapi keadaan orangtuanya yang sendirian telah mematahkan keinginannya untuk hidup di negeri orang.Sampai Sirul kembali ke rantaunya, Jakarta, Amri masih diliputi kegusaran. Ia seakan tertindih oleh keinginan merantau yang tak pernah tercapai.
Sehari-hari Amri menghabiskan waktu mengurus ayam-ayam yang dipelihara oleh ibunya. Kini ibunya tidak lagi mampu untuk mengurus ayam-ayam itu. Kelumpuhan di usia lima puluh delapan tahun telah membuat ia harus meninggalkan pekerjaan itu.
“Bagi orang Minang, merantau memang kebanggan tersendiri Am. Tapi jangan kamu paksakan diri bila tak ada tempat berpijak bagi dirimu di tanah rantau. Kamu akan terlunta-lunta di negeri orang,” kata ibunya suatu kali menjawab keinginan Amri.
“Sirul tidak bisa kau turutkan, ia punya saudara yang banyak di rantau dan tidak ada yang dikhawatirkannya bila tidak mendapat pekerjaan, sedangkan kamu tidak punya siapa-siapa di negeri orang. Kau anak tunggal, bapakmu almarhum juga tidak punya saudara yang merantau jauh ke negeri orang. Sedangkan ibu, sama seperti kamu Am, anak tunggal yang tak punya saudara lain selain orang tua.”
“Tapi Amri malu juga Bu, karena tidak pernah mencoba merantau, bukankah semasa bujang ini adat kita menganjurkan Amri untuk merantau?” uajr Mari mencoba mempertahankan keinginannya.
“Malu? Malu mana kamu bila kamu pergi merantau, ibu tidak terurus di rumah ini dan kalau ibu meninggal tidak ada yang tahu,” kata ibu Amri dengan suara yang sudah mulai berubah serak.
Amri hanya terdiam dan sesaat kemudian beranjak dari hadaan ibunya. Menyembunyikan wajahnya yang juga mulai dihinggapi perasaan iba. Menangis.
**
Azab Magrib mengejutkan Amri dari lamunan. Lamunan panjangnya di balai-balai belakang rumah yang tidak jauhan dari kandang ayamnya. Lamunan panjang tentang kata-kata ibunya dan keinginannya untuk merantau yang selalu kandas. Juga tentang nasib ibunya yang tidak jauh berbeda dengan dirinya.
Puluhan pertanyaan telah menghantui diri Amri ata apa yang akan dilakukannya dengan merantau. Tegakah ia pada ibunya yang sekarang sedang sakit? Tegakah dirinya membiarkan orangtuanya itu tinggal sendirian di rumah? Pertanyaan-pertanyaan itu menghujani pikiran mudanya. Pertanyaan itu meresahkan.
Amri beranjak dari duduknya. Ayam-ayam sudah masuk denan sendirinya ke kandang yang belum ditutup. Amri tinggal menutup dan menambah makanannya setelah ayam-ayam itu dipastikan berada di dalam kandang.
Agak terlambat Amri sampai di surau, tetapi ia tidak terlalu ketinggalan. Ia sampai saat makmum sednag mengamini bacaan imam yang selesai membaca surat Al Fati’ah. Ia masih mendapatkan barisan terdepan yang belum penuh, karena memang tidak banyak jemaah yang melaksanakan shalat di surau itu, itupun kebanyakan kaum tua.
Amri tidak langsung beranjak pulang ketika imam sudah selesai membaca doa selesai shalat dan dzikir. Ia duduk tafakur.
Ia tidak sendirian, di sebelahnya ada Pak Udin, guru mengaji di surau itu dan sering menjadi imam jika Tuanku berhalangan hadir di surau. Pak Udin juga sering merangkap menjadi garin, membersihkan surau dan menungguinya.
“Apa yang membuat kamu bermenung, Am?” Tanya Pak udin ketika melihat Amri lebih banyak bermenung. Agak terkejut Amri mendapat sapaan itu.
“Nggak ada Pak,” kata Amri yang sedikit dengan senyuman. Tapi Pak Udin tidak begitu saja percaya dengan jawaban Amri. Ia melihat perubahan di wajah Amri yang pernah ia ajari mengaji itu.
“Tak perlu berdusta, mukamu penuh kabut, kamu pasti sedang memikirkan sesuatu dan itu sangat berat,” kata Pak Udin sambil mendekati duduk Amri. Amri hanya tertunduk dengan tebakan yang tidak salah itu.
“Kamu perlu orang untuk membicarakan persoalanmu, tidak cukup dengan sekedar merenunginya saja. Sebab merenung itu sering tidak memiliki solusi,” lanjutnya.
Amri pun menceritakan tentang hal yang membuat dirinya bermenung dan tak nyaman itu. Tentang kegalauannya sebagai orang Minang yang dianjurkan merantau tetapi tidak bisa dilaksanakannya karena keadaan. Tentang kawannya yang setiap pulang selalu menyindir dirinya yang tak mau merantau.
“Saya bukan tidak mau merantau Pak.”
“Bapak rasa keputusanmu tepat.”
“Maksud Bapak?”
“Bila saya dalam posisi kamu, saya juga tidak akan memaksakan diri untuk merantau.”
“Tapi, saya malu Pak, sebagai orang Minang aku tidak bisa membanggakan karena aku tidak lengkap dengan pengalaman merantau.”
Sesaat keduanya terdiam. Pak Udin menatap tajam wajah Amri.
“Saya juga tidak memiliki kebanggaan di kampung ini, kami orang habis Pak. Tidak punya saudara lain,” kata Amri memecahkan kesunyian sesat itu.
“Lalu, apa yang kamu cari ke rantau?” Pak Udin seperti menemukan celah menanyai Amri.
“Kebanggaan Pak, kebanggan sebagai orang Minang,” jawabnya singkat.
“Sekarang kamu tidak bangga? Meski kamu telah membantu orangtuamu yang saat ini berada dalam keadaan sakit? Dan telah menghabiskan sebagian besar waktumu untuk mengurusi orangtuamu. Sebuah pengabdian yang belum dimiliki oleh teman-teman sebayamu. Seharusnya kamu jauh lebih bangga dengan dirimu Am, jauh dari kebanggan yang dimiliki kawan-kawanmu di rantau yang kadang hanya klise,” kata Pak Udin.
“Dan kamu tidak akan pernah memiliki waktu untuk membantu orangtuamu bila kamu berada di rantau seperti teman-teman saat ini. Uang tidak menjamin kebahagiaan orangtua, tetapi pengabdian yang tulus adalah harapan yang selalu diimpikan orangtua dan kamu telah melakukannya,” tambah Pak Udin.
Pembicaraan mereka terhenti ketika saat shalat Isya masuk. Amri melanjutkan shalat berjamaah bersama Pak Udin dengan jemaah yang sudah berkurang dari shalat Magrib sebelumnya.
Usai shalat Isya, Amri terus pulang dengan sebuah jawaban di hatinya. “Aku harus membahagiakan orangtuaku”.

Palembang-Batam, April 2003

Keterangan:
1 Lapau : kedai kopi
2 Palanta : tempat duduk
3 karatau madang di hulu, babuah babungo balun, ka rantau bujang dahulu, di rumah paguno balun: pantun yang menyatakan kerantau bujang dahulu, di rumah belum berguna


Blog EntryCerpen Abakku DatukSep 7, '05 11:46 PM
for everyone
Abakku Datuak

Cerpen Mairi Nandarson
( telah dimuat majalah Annida)

Siang yang galau. Jakun-jakun Rusman naik turun. Ia harus berada di antara rasa marah dan sabar. Ia baru saja ditinggal Abaknya untuk selama-lamanya. abaknya meninggal dunia. Dan kepergian abaknya itulah membuat ia terpukul. Ia merasa sia-sia datang dengan biaya tinggi agar datang lebih cepat dan bisa menemui Abak sebelum ajal menjemput.
Siang yang galau. Jakun-jakun Rusman naik turun. Ia harus berada di antara rasa marah dan sabar. Ia baru saja ditinggal Abaknya untuk selama-lamanya. abaknya meninggal dunia. Dan kepergian abaknya itulah membuat ia terpukul. Ia merasa sia-sia datang dengan biaya tinggi agar datang lebih cepat dan bisa menemui Abak sebelum ajal menjemput. Tapi sesampai di rumah, Rusman hanya di hadapkan pada sosok yang sudah tidak lagi bernyawa. Abaknya telah meninggal sebelum ia sampai.
"Abakmu sudah pergi," sambut Amak, ketika Rusman baru saja sampai di rumah. Amaknya menangis dan Rusman sadar kalau kehadirannya di rumah terlambat.
"Mungkin inilah kehendak Yang Kuasa atas dirimu, Man," kata Amaknya masih dalam tangisan.
Rusman memeluk Amaknya. Tangis amaknya masih tersisa. Isaknya masih menyisakan sedu yang mengguncang tubuh tuanya.
Tidak hanya Amaknya, adik-adiknya juga tak kuasa menahan haru. Isak dan rengekan terdengar menjadi irama memilukan. Siang hari yang buram, dalam panas yang menyengat.
Selang satu jam. Ketika Rusman selesai membacakan surat Yasiin di sisi mayat abaknya, ia harus berhadapan dengan persoalan lain. Sejumlah orang yang selama ini dikenal sebagai keponakan Abaknya, ingin mengangkat mayat orangtuanya itu dan membawanya ke rumah lain.
"Dia tidak pantas disemayamkan di sini," kata sejumlah orang.
"Indak, Abak jangan dibawa. Biarkan di sini," Armina, adik perempuannya menahan kerenda yang segera akan diangkat sejumlah orang yang diutus untuk mengangkat mayat abaknya itu.
Rusman berdiri. Matanya memerah. Ia tidak tega melihat adiknya, dan isak saudara-saudaranya yang tak berhenti ingin mempertahankan mayat Abaknya agar tidak dibawa.
"Biarkanlah mayat Abak di sini, kami adalah anak-anaknya yang sah," Rusman mencoba untuk bersikap tenang dan ia tidak mau melihat mayat abaknya diperlakukan seperti itu.
Tapi tidak ada yang menggubris ucapan Rusman, ataupun ungkapan histerisnya Armina, adiknya. Sekitar enam orang pemuda tegap dengan sigap tetap mengangkat karenda mayat Abaknya yang saat itu berada di tengah-tengah rumahnya.
Armina tetap tidak merelakan mayat itu dibawa. Ia bersikeras dan menarik satu kaki keranda, sehingga tarikan keranda itu tertahan. Maka terjadilah tarik-tarikan. Orang-orang yang hadir melayat hanya bisa melihat. Tak ada yang mau turut campur, apalagi menyentuh dan membantu apa yang dilakukan oleh Armina. Rusman bangkit dan menyusul Armina, mau menolongnya. Tapi tangannya ditahan. Amaknya memegang tangan Rusman.
"Jangan, Man, biarkanlah. Ia memang abakmu, tapi ia tidak hanya milik kita," kata Amak yang sama sekali tidak ia mengerti.
"Indak, Mak," Rusman meronta dan pegangan tangan amaknya terlepas. Ia lari menuju adiknya. Ia ikut bersama adiknya mempertahankan mayat abaknya untuk disemayamkan di rumah itu.
Suasana tegang. Mayat di atas keranda itu berada dalam kondisi saling tarik. Suasana jadi ribut. Tapi tidak banyak orang mau terlibat, kecuali hanya melihat dari jauh. Banyak yang tidak tega, tapi tidak ada yang bisa berbuat. Mereka hanya melihat dari jauh dan hanya bisa saling bisik.
"Man, tahu dirilah, Waang! Abak Ang itu Datuk. Tidak boleh disemayamkan di rumah, ia harus disemayamkan di tanah kaum," Labai Alun mendekati Rusman dan memarahinya.
"Waang sudah besar, tapi tidak tahu adat. Tidak di tempatnya datuk dimandikan di rumah bininya. Itu tidak beradat!" Bagindo Maran, bakonya ikut memarahinya.
"Tidak beradat? Apa ini beradat? Kenapa mengangkat mayat abakku ini tidak meminta izin kepada kami? Kami anak-anaknya, kami hidup dan bagian dari mayat ini!" lantang suara Rusman.
"Ini yang beradat! Adat siapa? Bako? Tahu apa bako dengan abakku ini? tahu apa bako dengan sakit dan penderitaan orangtuaku ini?" kata Rusman dengan suara yang menarik perhatian banyak orang. Serta merta keranda itu diturunkan dan terhenti di tengah halaman rumah.
***
Sakit abaknya, bagi Rusman sudah tidak lagi dalam hitungan waktu hari atau bulan tapi sudah hitungan tahun. Bagi Rusman penyakit abaknya kambuh karena 'kenakalan' abaknya sendiri. Abaknya tidak pernah mau bersahabat dengan pantangan dan kebiasaan buruk yang sebenarnya menjadi cikal penyakit yang diidapnya.
Rusman juga pernah memberitahu abaknya itu, kalau sakit yang diderita abaknya itu adalah penyakit yang bermula dari kebiasaan merokok yang berlebihan.
"Abak tidak perlu bangga hanya karena mampu menghabiskan satu sampai dua bungkus rokok setiap hari," kata Rusman suatu kali ketika Abaknya ia bawa ke Jakarta, untuk menjalani pengobatan.
Tapi abaknya tetap saja tidak menggubris ketika ia sudah kembali ke kampung halaman tanah kelahirannya, dan abaknya sudah tampak sehat kembali.
"Bak!"
"Kamu tidak mengerti, Man, ini karena kamu tidak boleh merokok saja. Coba kalau kamu merokok, mungkin kamu mengerti kenapa Abak tidak bisa meninggalkan kebiasaan ini," begitu alasan Abak, yang bagi Rusman sulit untuk membantahnya. Ia sudah yakin, pada akhirnya Abak hanya akan mengatakan, kalau ia tidak perlu diajari.
"Mentang-mentang kamu sudah sarjana, lantas Abak Waang ajari. Apa kata orang, Man!" marah Abak suatu kali yang membuat Rusman tidak berkutik.
Ingin ia pergi dari hadapan Abak yang kala itu tidak mengacuhkannya lagi. Tapi hanya berselang bulan, penyakit sesak napas Abak kambuh lagi. Amak menyampaikan lewat telepon.
"Man, penyakit abakmu kambuh lagi!"
Agak galau hati Rusman menjawab dan memintanya untuk datang ke Jakarta kembali. Kata-kata kasar dalam amarah abaknya yang pernah ia terima bermain-main di benaknya. Bahwa apa yang ia katakan menjadi tidak berarti apa-apa di hadapan Abaknya.
"Mak, kini Abak di mana?"
"Di rumah saja,"
"Mak mau membawa Abak kembali ke Jakarta?" sesaat permintaan Rusman tidak berbuah jawab. Baru agak lama kemudian, setelah Rusman menanyakan lagi.
"Bagaimana, Mak?"
"Abakmu tidak mau, ia ingin obat kampung saja. Katanya lebih baik diobat ke dukun. Biayanya kecil dan tidak terlalu jauh," jelas amaknya yang agak terpatah-patah.
"Tapi penyakit Abak itu sudah akut, Abak butuh perawatan dan kontrol yang cukup oleh dokter!"
"Entahlah, Man, kamu mungkin sudah tahu kalau abakmu sudah mengatakan tidak, kau bilang apapun pasti tidak akan didengar," kata amaknya.
Rusman tidak punya keputusan lain, kecuali merestui permintaan abaknya. Karena tawaran yang lain agar abaknya dibawa ke rumah sakit terdekat di Padang, juga ditolak oleh abaknya.
"Abak tidak tahan bau rumah sakit, Man, simpanlah uangmu itu, nanti habis hanya untuk berobat, Abak," kata Abaknya beralasan. Suaranya sesak, dan batuknya terdengar sangat keras.
"Bak!"
Tapi Abaknya sudah tidak mau lagi mendengar apa yang akan disampaikan oleh anak sulungnya itu. Ia seolah sudah tahu apa yang akan disampaikan anaknya setelah itu dan ia tidak sependapat.
"Mak, apa Rusman salah, Mak? Kenapa tidak berarti apa yang Rusman lakukan terhadap Abak?"
"Ang indak salah, Man, kamu sudah menolong Abak. Kalau bukan karena kamu apa jadinya penyakit Abak. Apa yang kamu hadapi itu hanya kerisauannya terhadap apa yang akan terjadi setelah ia pergi."
"Apa, Mak?"
"Bako."
"Ada apa dengan bako, Mak?"
"Nanti kamu tahu sendiri,"
***
Rusman sebenarnya tidak terlalu terkejut menghadapi kematian. Pengajian yang diikutinya di masjid ketika ia masih mahasiswa masih terngiang-ngiang di telinganya.
Ustadz Dullah pernah bercerita tentang kematian. Ia mengingatkan bagaimana sebagai seorang muslim agar selalu ingat dengan kematian.
"Seharusnya kita ingat dan sadar, bahwa sesungguhnya kematian itu akan tiba," kata Ustadz Dullah.
Ustadz mengingatkan bahwa banyak orang telah terpedaya oleh hawa nafsu, dan orang-orang itu lupa mengingat kematian. Bila diingatkan mereka justru merasa benci dan menjauh.
"Mereka inilah yang disampaikan Allah dalam surat Al Jumu'ah ayat 8 yang maksudnya antara lain agar kita senantiasa mengingat kematian," kata Ustadz Dullah.
Saat itu ia dan kawan-kawannya sudah diingatkan oleh Ustadz bahwa, meski sudah menyiapkan diri, tetap saja perasaan kehilangan orang terdekat akan mempengaruhi jiwa mereka.
"Nanti kamu akan merasa sendiri," kata Ustadz Dullah.
Ustadz Dullah juga mengingatkan, kalau dalam prosesi kematian selalu akan berhadapan dengan persoalan kebudayaan yang tidak pernah hilang.
"Ustadz Dullah juga mengingatkan, kalau dalam prosesi kematian selalu akan berhadapan dengan persoalan kebudayaan yang tidak pernah hilang.
"Ustadz sendiri tidak bisa mengelak, karena memang kebudayaan itu di negara ini jauh lebih tua dari agama Islam sendiri," katanya.
Dan itu, benar-benar ditemukannya ketika ia harus menghadapi kematian Abaknya. Ia betul-betul perang dengan logika budaya yang tidak ia temukan selama menjalani proses pendidikan.
***
Mayat Abaknya masih tertahan. Rusman memerah mukanya. Marah. Ia menjadi sangat benci. Usahanya yang dilakukannya agar peristiwa kematian itu tidak terjadi menjadi sia-sia ketika ia harus menghadapi situasi bahwa ia tidak menjadi bagian dari proses akhir keberangkatan abaknya itu.
"Ini kan keterlaluan, sudahlah tidak mau tahu ketika Abakku sakit, kini semua seenaknya mengatakan abakku itu Datuk! Mamak! Milik kaum! Omong kosong!" Rusman ikut histeris. Ia emosi dan sangat marah. Marah. Tidak ada yang menanggapi. Semua diam. Senyap.
Seseorang mendekati Rusman. Tangannya kemudian merangkul bahu Rusman. Tak ada perlawanan. Ia adalah Darius, tetangganya yang pernah menjadi guru ketika ia sekolah menengah.
"Man, sabarlah. Rusman tentu tidak ingin mayat abakmu ini terlantar. Sabarlah, kita perlakukan mayat abakmu ini selayaknya, nanti kita persoalkan. Kasihan Abakmu, terlalu lama ia teraniaya dalam pertengkaran ini," suara Pak Darius itu begitu lunak. Sedikit membawa emosi Rusman luruh. Ia tidak meronta ketika tangan Pak Darius menempel di bahunya.
"Tidak, Pak, ini adalah hari terakhir Man dengan Abak. Mestinya ini hari yang membuat Man dan adik-adik puas dan menjalankan kewajiban Man sebagai seorang anak!" Rusman terisak.
"Rusman tidak punya banyak pilihan, biarkanlah semua ini menjadi kewajiban kami anak-anaknya, jangan bawa mayat ini dari kami!"
Pak Darius melepaskan pegangannya di bahu Rusman. Ia menjauh dari Rusman dan mendekati seorang tetua yang berkait mamak-kemenakan dengan abaknya.
Rusman merangkul adik-adiknya. Ia tidak tega melihat adik-adiknya terus terisak menatap mayat abaknya di halaman rumah. Mestinya mayat itu sudah dimandikan dan dikafani.
"Man, jalanilah kewajibanmu. Kau berhak untuk melepas abakmu hingga kepembaringannya yang terakhir. Tapi kami minta jangan di rumah ini. Mandikanlah, dan kafani abakmu di rumah bakomu," Pak Darius dengan sangat simpatik membisikkannya kepada Rusman.
"Kenapa, Pak?"
"Ia Datuk!"
Rusman tidak mengerti, tapi ia harus mengangguk. Bapak harus dikuburkan, hari sudah pukul dua siang.

Lubuk Alung-Padang-Batam, 1993-2004
(sebelas tahun kepergian Abak)


Blog EntryMenjadi FotograferSep 7, '05 1:35 AM
for everyone
Agaknya sulit mewujudkan hobby yang satu ini. Menjadi fotografer. Soalnya harga kameranya mahal banget, apalagi sekarang sudah berkembang ke kamera digital. Nah ini foto kenangan ketika menjadi fotografer harian Mimbar Minang. Tapi pake kamera kantor hehehe.


Blog EntryMenjalani Profesi WartawanSep 7, '05 1:32 AM
for everyone
Menjadi wartawan ya harus mewawancarai orang termasuk mengupaya mendapatkan informasi dari publik figur. Berusaha adalah kata kunci untuk bisa memperoleh informasi yang diinginkan.


Blog EntryDi luar negeriSep 7, '05 1:24 AM
for everyone
Semua orang berkeinginan untuk pergi ke luar negeri. Tapi pertanyaannya adakah uang untuk biaya perjalanan? Beruntung aku diajak oleh seorang kerabat bersama dua teman lainnya. Sehingga berkesempatan menginjak tanah Malaysia dan Thailand


Blog EntryDi PontianakSep 7, '05 1:14 AM
for everyone
sama seperti ke Bali, aku juga berkesempatan pergi ke Pontianak tahun 2002


Blog EntryDi BaliSep 7, '05 1:11 AM
for everyone
tak pernah bermimpi bisa ke bali, eh tak di nyata ada hadiah dari Indosat untuk berangkat gratis ke pulau dewata itu. aku datang ke sana bersama rombonga indosat April 2003


Blog Entryfoto di AcehSep 7, '05 1:04 AM
for everyone
ini adalah foto ketika di Aceh tahun 1996. Saat itu mengikuti pelatihan jurnalistik mahasiswa. Situasi Aceh saat itu masih dalam status DOM (daerah Operasi Militer)


Blog Entryia pergi pukul 10.00 pagiSep 6, '05 10:25 PM
for everyone
(untuk korban mandala airlines)

pukul 10.00 pagi, 5 september
tak ada pesan yang tertinggal
yang ada hanya lambaian tangan
ketika roda pesawat bergerak lambat, melaju, cepat, dan makin cepat

landasan pacu meninggalkan debu
lambaian tangan meninggalkan lelah
semua seperti telah berlalu
seperti burung, terbang, dan terbang
menuju langit tak berhingga
lalu kita bernyanyi untuk berharap ada pesan yang datang
"aku sudah sampai di seberang"

senin itu, kata-kata berubah makna
kata-kata berubah menjadi doa
seperti burung patah sayap
terhempas di tanah lepas
mengubur segala rasa yang tersisa

mandala telah luruh
menitipkan ratusan nyawa pada yang Mahakuasa
dalam satu waktu yang tak terhitung oleh ramalan apapun

tinggallah kita
menatapnya dengan airmata
melambaikan tangan untuk selamanya
berharap mandala meneruskan penumpangnya
terbang ke langit yang sebenarnya

batam, 5 september 2005



Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help